Jumat, 07 September 2012


Mesin Waktu

Randy, Firda, Dika, Reza dan aku adalah sahabat karib. Kami bersahabat sejak duduk di bangku TK. Sebenarnya, ada satu lagi sahabat kami. Namanya Farah. Tapi, dia tidak bersama kami disin. Dia ada di Amerika karena ikut orangtuanya. Ayahnya pindah kerja di sana selama 3 tahun. Kami berjanji akan selalu bersama setiap saat, dan setiap waktu. Farah pernah bilang kalau suatu saat, dia pasti akan datang hanya untuk kami. Kami akan menunggumu, Farah.

“Anak-anak, karena hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah, Bapak akan memberikan kalian kebebasan. Untuk sementara waktu, kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Silahkan kalian melakukan kegiatan yang kalian suka.” Begitulah pesan yang disampaikan oleh Pak Ardi, wali kelas VII-5. Kami berlima masuk dalam satu kelas. Yaitu kelas VII-5. Kelas ini termasuk kelas RSBI. Jadi jangan heran, untuk masuk kelas ini tesnya sangat ketat dan sulit.
“Kita akan membicarakan apa?” tanya Randy
“Tidak tahu” kata Reza sambil menggelengkan kepalanya
“Kalau kamu, Nad?” tanya Firda padaku
“Aku juga tidak tahu. Mungkin kita akan diam seperti ini sampai jam pulang nanti” kataku.
Saat kami diberi waktu untuk melupakan hal yang berhubungan dengan pelajaran, kami malah sangat ingin belajar. Saat guru menjelaskan, kami sangat malas untuk mendengarkan penjelasannya yang begitu ribet dan tidak ada habisnya. Tapi sekarang, hal itulah yang kami inginkan. Itu karena kami sudah di beri waktu selama satu minggu untuk rileks, setelah melewati tes tertulis dan lisan. Hari ini, kami putuskan untuk santai dan sementara tidak belajar.
   
Teet…teet…teet!!!
Pukul sepuluh pagi, kami sudah dipersilahkan untuk pulang meninggalkan sekolah. Kami berjalan beriringan sambil berbincang-bincang. Arah pulang kami memang searah, karena kami tinggal di satu kompleks perumahan.
Setelah sampai di rumah, aku merebahkan diri di kasur. Rasanya aku ingin sekali tidur, tapi mama pernah bilang bahwa tidur di siang hari tidak baik bagi kesehatan. Jadi lebih baik aku mencari kegiatan yang mendidik. Salah satunya adalah membuka internet. Aku masih penasaran dengan mesin waktu.
Di televisi, katanya ada orang yang pernah kembali ke masa lalu dan ada yang datang dari masa depan. Jadi, aku mencari penjelasan yang dimaksud dengan mesin waktu dan orang-orang yang terkait dengan mesin waktu.
Sekian lama aku mencari di internet, tak kunjung kutemukan segala sesuatu yang berhubungan dengan mesin waktu. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Itu artinya sudah dua jam aku mencari, dan aku putuskan untuk menyudahi pencarian tentang mesin waktu.
“Nadia! Ayo makan” terdengar suara mama dari lantai satu. Aku bergegas keluar dari kamarku yang berada di lantai dua.
“Kamu kemana aja sih Nad?” tanya Rizki, kakakku
“Aku habis buka internet” kataku
“Pantesan lama banget. Kamu ngapain buka internet? Facebookan ya?” tanya kakaku dengan rasa ingin tahu
“Enak saja. Aku tadi habis mencari informasi tentang mesin waktu. Aku kan tidak seperti kakak, yang kerjanya facebookan melulu!” kataku setengah kesal tanpa melihat kakaku. Kakaku langsung berdiri dan menepuk pundakku, lalu nyengir. Aku tau apa yang akan terjadi, lalu aku berlari yang langsung dikejar kakaku.
“Nadiaaa!!!” teriak  kakakku. Tapi aku tidak berani melihat ke belakang. Karena lariku lebih lambat dari kakakku, akhirnya aku tertangkap juga oleh kakakku.
“Kamu bilang apa tadi?!” tanya kakakku marah
“Ah, enggak kak! Aku bilang, kakak itu ganteng dan baik. Gak ada lagi kok” kataku sambil mengelus tangan kakakku tanda memelas. Kak Rizki langsung menjitak kepalaku.
“Awas ya kamu! Kalau sampai kamu mengulangnya lagi, kamu akan merasakan yang lebih hebat dari jitakan kakak barusan tadi!” kata kakakku sambil berjalan meninggalkan aku.
“Eh! Iya kak” kataku. Hampir saja aku dipukulin sama kakakku yang galak itu. Aku kan penasaran sama yang namanya mesin waktu. Sudah satu jam aku berada di ruang makan, dan jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Aku bergegas ke kamar mandi dan mengambil air wudhu kemudian menuju ke mushalla untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Setelah shalat dzuhur, aku langsung beristirahat. Setelah shalat ashar, aku menuju rumah Randy. Kami berlima sudah janjian untuk berkumpul dirumah Randy. Kulihat yang lain sudah berada di halaman rumah Randy.
“Oke, semuanya sudah ngumpul kan?” tanya Randy
“Langsung saja, kita memulai pembicaraannya,” kata Randy
“Farah bilang padaku akan datang mengunjungi kita” kata Randy melanjutkan. Farah akan datang kesini? Aku dan yang lain terkejut mendengarnya.
“Farah mau datang? Yang benar kamu Ran?” tanya Firda
“Iya. Kemarin dia sms aku, katanya dia mau datang,” jelas Randy
“Terus, kapan dia datang?” tanyaku
“Dia tidak bilang padaku kapan datangnya. Katanya ini akan jadi surprise buat kita semua” kata Randy
“Yaaahhh......” kata kami serempak
“Tapi aku yakin, Farah pasti datang secepatnya” kata Randy yakin
“Kita semua juga yakin” kataku mewakili teman teman
“Eh, ngomong-ngomong, aku masih penasaran sama mesin waktu nih” kataku mengalihkan pembicaraan
“Mesin waktu kan mesin yang ada waktunya. Iya nggak Ka?” kata Reza melirik kearah Dika. Reza memang suka bercanda
“Iya! Bener bener! Mesin yang ada waktunya!” kata Dika mengiyakan jawaban Reza
“Aduh! Kalian ini! Aku serius tau! Soalnya aku pernah lihat di TV, ada orang yang mengaku datang dari tahun 2025, katanya dia datang ke tahun 1946 ingin mengambil kembali komputer milik gurunya. Aku sih nggak tau beritanya benar atau tidak. Makanya aku tanya sama kalian. Kalau kalian tidak tahu juga tidak apa-apakataku
“Iya deh, Nad. Aku sama Dika minta maaf ya..” kata Reza meminta maaf
“Ya udah, kalian aku maafkan, tapi jangan diulangin lagi ya. Janji?” tanyaku
“Janji deh!” kata Reza dan Dika serempak sambil tersenyum
“Wah! Nadia baik banget! Udah  cantik, baik, pinter lagi” kata Firda. Kami semua tertawa. Firda, Firda, kamu ini ada ada saja…

Hari ini adalah hari Selasa. Hari ini, mungkin kami sudah mulai aktif belajar. Aku berangkat sekolah diantar oleh ayah. Aku dan kakakku diantar bersamaan karena jalur sekolah yang searah. Kakakku sekarang kelas XI SMA. Sekolahnya tepat berada di samping sekolahku. Jadi jika mau berangkat sekolah, kami selalu bersama.
Saat aku masuk ke kelas, kulihat Firda dan Reza sedang mengobrol. Mereka ternyata sedang membicarakan kedatangan Farah.
“Menurutmu Za, kapan Farah datang kasini?” tanya Firda pada Reza
“Yang pastinya sih aku gak tau. Aku ingin, dia datang kesini secepatnya” kata Reza mencoba menjawab pertanyaan Firda
    “Kalian ngomongin apa sih?” tanyaku
    “Eh, kita ngomongin tentang datangnya Farah kesini. Soalnya aku kangen banget sama Farah. Dia kan sering nolongin aku” kata Firda
    “Oiya! Aku ingat, waktu itu kamu yang paling sering ditolong sama Farah” kataku
    “Iya! Waktu itu kamu yang paling sering ditolong sama Farah” kata Reza
    Iya. Farah memang baik” kata Firda
    “Iya. Farah memang selalu baik sama kita semua. Tidak heran kita semua kangen sama dia” kataku
“Faraaaahh!! Kapan kamu datang?!!” kata Firda yang sangat ingin bertemu dengan Farah
“Kita semua sama kaya kamu! Pengen ketemu Farah.” kataku pada Reza dan Firda.
“Kita naik mesin waktu aja! Jadi kita bisa kembali ke masa lalu yang menyenangkan sewaktu Farah belum ka Amerika” kata Reza mengada-ada
“Reza, mulai deh yang nggak-nggak!” kata Randy yang sempat mendengar pembicaraan kami
Ternyata Dika dan Randy sudah datang. Mereka berdua langsung bergabung dengan kami. Ketika mereka datang, bel tanda masuk berbunyi. Kami langsung duduk di tempat masing-masing. Dan ketika itu juga Pak Ardi datang…
“GOOD MORNING SIR!” seru kami serempak
“Good morning everybody!” jawab Pak Ardi
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru” kata Pak Ardi. Kami semua bertanya-tanya dalam hati. Murid baru? Siapa ya orangnya?
“Farah, ayo masuk nak” seru Pak Ardi pada seseorang yang berada di luar kelas. Lalu, murid baru itu masuk. Dan….
“Itu Farah!!” seru Firda. Setelah mengamati secara detail, ternyata itu memang Farah
“Farah, sekarang perkenalkan diri kamu.” perintah Pak Ardi
“Perkenalkan, nama saya Farah Nabila Putri. Saya datang dari Amerika, saya harap, teman-teman semua mau berteman dengan saya.” kata Farah memperkenalkan diri.
“Farah, kamu bisa duduk di sebelah… Ah, itu di sebelah Firda. Kamu tidak keberatan kan?” tanya Pak Ardi pada Farah. Farah menggeleng. Firda pasti senang sekali, karena Farah duduk disampingnya.
“Baiklah. Sekarang Bapak tinggal dulu. Bu Yuni telah menunggu” kata Pak Ardi
“Ini beneran kamu Far?” Firda langsung bertanya pada Farah
“Ya iyalah Fir! Kamu dari dulu gak berubah ya! Tetap aja plin plan!” kata Farah sambil setengah tertawa pada Firda
“Ah kamu Far! Yang itu malah yang diingat! Kamu juga. Sifat kamu masih tomboy kaya dulu!” kata Firda sambil tertawa.
“Anak-anak! bisa diam sebentar? Jika ada yang mau bicara, silahkan gantikan saya di depan!” bentak Bu Yuni, guru Matematika kami. Farah dan Firda memang bicara dengan suara yang agak nyaring, makanya mereka dimarahi oleh Bu Yuni.

Teet…teet…teet…
Bel tanda istirahat berbunyi
“Baiklah anak-anak, pelajaran kita cukupkan sampai disini. Sampai jumpa dan selamat pagi” kata Bu Yuni mengakhiri pelajaran
“Pagi Bu!” jawab kami serempak. Lalu murid-murid berhamburan keluar. Aku, Randy, Firda, Dika, Farah, dan Reza langsung mencari tempat untuk berbincang-bincang.
“Farah! Kamu kemana aja sih selama 3 tahun ini? Kita semua kangen tau sama kamu! Kamu juga nggak ngasih kabar sama kita,” kata Firda memulai pembicaraan
“Kalian kan tau. Aku sama keluarga aku tinggal di Amerika? Sebenernya, aku pengen kirim surat sama kalian, tapi disana biaya kirim suratnya mahal kalau ke luar Amerika. Maafin aku, ya” jawab Farah
“Ya udah, kamu kita maafin deh. Oiya, kapan kamu berangkat dari Amerika Far? Perasaanku, baru kemarin Randy memberi tahu kami, besoknya kamu sudah datang” tanyaku mengalihkan pembicaraan
“Mungkin Farah naik mesin waktu seperti yang dibilang Nadia” kata Reza sambil cekikikan
“Ya nggak mungkin lah aku naik mesin waktu! Mana ada disana mesin waktu. Aku berangkat kemarin sore jam 4 waktu Amerika, jadi sampainya cepatjelas Farah
“Ngomong-ngomong mesin waktu, aku masih penasaran nih,” kataku yang masih penasaran dengan mesin waktu.
“Iya! Kita juga bingung sama Nadia. Dari kemarin, dia ngomongin masalah mesin waktu melulu!” kata Reza
“Jadi, mesin waktu itu apa sih?” tanya Dika
“Menurut aku, mesin waktu itu dipakai untuk menjelajahi waktu, lebih jelasnya, aku ngga tahu” jelas Farah.

Teet…teet…teet…
Tak terasa, 15 menit berlalu. Sekarang, waktunya masuk ke kelas. Pelajaran kedua yang mengajar adalah Pak Nugi. Pak Nugi mengajar pelajaran Sejarah.
“Anak-anak, kalian tahu kan mesin waktu? Yang sekarang sedang menjadi perbincangan masyarakat?” tanya Pak Nugi pada kami semua.
“Tau Pak!” jawab kami serempak
“Tidak diketahui, siapa penemu pertama mesin waktu, orang yang pernah pergi ke masa lalu, orang dari masa lalu pergi ke masa sekarang, ataupun sejarah tentang mesin waktu. Ada yang bertanya?” jelas Pak Nugi, kemudian bertanya pada kami
“Pak! Saya mau bertanya. Apakah orang yang pergi ke masa depan atau masa lalu dapat kembali ke masa dia berasal? Dan apakah orang itu dapat melihat kejadian yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku pada Pak Nugi, mumpung ada kesempatan
“Nadia, tadi sudah Bapak katakan, sampai sekarang belum ada yang pergi ke masa lalu ataupun ke masa depan. Sekarang pun, keberadaan mesin waktu masih diragukan. Jika mesin waktu ada, pasti mereka bisa melihat apa yang akan terjadi pada masa yang mereka kunjungi.” Jelas Pak Nugi panjang lebar
“Paham!” tanya Pak Nugi lagi
“Paham Pak!” jawab kami serempak
“Karena kalian sudah paham, Bapak akan memberikan tugas pada kalian. Tugas kalian, bentuk sebuah kelompok. Satu kelompok beranggotakan 4-6 orang. Setiap kelompok harus memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Kalian bisa mencari di internet, dengan imajinasi kalian sendiri, atau mencari dimana saja yang menurut kalian akan terjadi di masa mendatang. Tapi ingat, jika kalian menggunakan imajinasi kalian, jangan sembarang berkhayal. Gunakanlah imajinasi kalian sebagus mungkin. Jika kalian menggunakan imajinasi, hubungkan kaitannya dengan yang terjadi di masa sekarang. Contohnya, di masa datang gedung-gedung bertingkat tidak ada yang berlantai dua. Tugas ini dikumpul 2 hari lagi. Tidak ada alasan ketinggalan, lupa, belum dikerjakan, dan sebagainya. Kalian paham?” lanjut Pak Nugi.
“Paham Pak!” jawab kami serempak
“Baiklah, sekarang silahkan istirahat dan selamat siang,” Pak Nugi mengakhiri pelajaran kemudian keluar meniggalkan kelas, diikuti murid-murid yang lain
“Kita satu kelompok tidak?” tanyaku pada Randy, Farah, Firda, Dika dan Reza
“Pasti dong!” kata Dika bersemangat
Iya dong! Kita kan anytime always together. Iya kan?” kata Farah
Cieee Farah, sudah pinter bahasa inggrisnya nih! Nanti ajarin kami, ya?” kata Firda sambil cekikikan
Bukan begitu. Emang bener kan kita selalu bersama setiap saat dan tidak akan terpisahkan satu sama lain?” kata Farah
“Sudah-sudah! Jadi, kita mulai ngerjakan tugasnya kapan nih?” tanya Randy pada kami semua
“Siapa yang setuju kita mengerjakannya nanti sore?” tanya Reza
    “Aku mau istirahat dulu. Soalnya aku kan baru datang dari Amerika. Aku sampai di Indonesia saja sudah pukul 1 pagi. Paginya, aku sudah harus sekolah” jelas Farah
“Nanti sore, aku ada les Matematika dan Bahasa Inggris. Kalau aku bolos, mama pasti marah,” kata Dika
“Aku juga ingin membantu mama bikin kue untuk ulang tahun papa” ujar Randy. Randy memang pandai memasak
“Aku mau membantu mama dan bibiku bersih-bersih rumah. Soalnya Om Iwan, adik papa mau datang dari Jakarta” kataku pada Reza
“Kalau kamu Fir?” tanya Reza pada Firda
Nanti sore aku menjaga adikku. Soalnya papa sama mama mau ke pasar nanti sore. Aku disuruh menjaga Nurul nanti sore” jelas Firda pada Reza
“Berarti kita sepakat ngumpul di lapangan dekat jembatan besok, ya?” tanya Dika pada kami. Lapangan dekat jembatan adalah lapangan yang berada di bawah jembatan rel kereta api. Lapangan itu biasa digunakan oleh anak-anak sekitar untuk bermain sepak bola. Tapi, kami gunakan juga untuk berkumpul bersama.
“Ok! Jam 3 kita sudah berkumpul, ya” kata Randy mengingatkan
“Pastinya!” kata kami serempak

Keesokan harinya . . . . .
“Kita mulai dari mana nih?” tanya Reza
“Kita belum menemukan referensi untuk tugas kita, bagaimana kita mau mengerjakannya?” kata Firda
“Firda bener! Kita belum nemuin narasumber buat tugas ini,” kata Randy
“Eh, Dika! Kami ngelihatin apa sih? Kok kayaknya serius amat?” kataku pada Dika yang dari tadi sedang mengamati sesuatu
“Eh Nad! Coba lihat! Ini apa ya?” tanya Dika padaku saat melihat sebuah buku yang cover bagian depannya memancarkan sinar. Kami semua lalu mendekati Dika.
“Coba kalian pegang buku ini, rasanya seperti ada yang membawa kita” kataku pada semua
“Eh, iya bener! Coba kita pejamkan mata kita, rasanya seperti terbang dibawa angin!” seru Farah. Kami semua mengikuti apa yang dikatakan Farah. Ternyata benar, rasanya kami seperti terbang dibawa angin. Saat kami membuka mata…
    “Kita ada di mana nih?” seru Reza terkejut. Saat kami membuka mata, kami ada di tempat yang tidak pernah kami lihat dan mungkin tidak ada di dunia saat ini
“Kita tanya sama orang itu saja” kata Randy “permisi, ini ada dimana ya pak?” tanya Randy pada seorang bapak yang sedang melintas
“Ini ada di Palangka Raya, nak” kata Bapak itu.
“Saya orang asli Palangka Raya. Tapi, belum pernah melihat tempat ini” kata Randy sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Sepertinya, kamu bukan orang sini. Ini kan tahun 2050! Wajar jika gedungnya tinggi-tinggi,” kata Bapak itu sambil tertawa
“Hah! 2050?” tanya Randy terkejut
“Iya! Memangnya kenapa, nak?” tanya bapak itu lagi
“Saya berasal dari tahun 2011 pak! Jadi, wajar saya tidak tahu,” kata Randy
“Jangan bercanda kamu, nak! Tahun itu sudah lama sekali. Tidak mungkin ada orang yang bisa datang dari tahun itu!” kata bapak itu terkejut begitu mendengar bahwa Randy berasal dari tahun 2011
“Apa benar, ini tahun 2050?” tanya Reza
“Iya! Gak percaya? Tanya saja dengan ibu yang sedang berjalan itu,” kata Randy pada Reza sambil menunjuk seorang ibu yang sedang berjalan
“Ok! Aku tanya dulu ya,” kata Reza sambil meninggalkan kami dan bergegas menuju ibu yang ditunjuik oleh Randy
Permisi, bu. Maaf, ini ada di tahun berapa ya?” tanya Reza pada ibu itu
“Ini ada di tahun 2050, nak” kata ibu itu. Kemudian, Reza menuju kearah kami
“Gimana Za?” tanya Randy
“Benar kata kamu Ran! Kita ada di tahun 2050” kata Reza
“Masalahnya, sekarang bagaimana caranya kita pulang ke tahun 2011?” tanyaku pada semua
“Entahlah. Mungkin kita akan terjebak disini selamanya” kata Dika putus asa
“Nggak mungkin! Kita bisa kesini, pasti kita juga bisa pulang dari sini!” tekadku.
Tidak mungkin kami ada disini selamanya. Tadi, kami ada disini setelah memegang buku yang ditemukan oleh Dika. Mungkin jika kami pegang lagi, kami bisa kembali ke tahun 2011 pikirku mencari cara unntuk pulang.
“Coba kita pegang buku ini seperti saat kita menemukannya! Mungkin dengan cara itulah, kita bisa pulang ke tahun 2011!” kataku.
Kami memegang buku itu sambil memejamkan mata. Tapi, setelah dicoba beberapa kali, kami tak juga kembali ke tahun 2011. Kami mulai putus asa. Ternyata, bapak yang ditanya oleh Randy telah mengamati kami dari tadi.
“Kalian kenapa?” tanya bapak itu
“Kami tersesat pak! Sekarang, kami tidak tahu bagaimana caranya pulang” kata Reza
“Memang rumah kalian dimana? Mari, bapak antar!” ajak bapak itu
“Tidak bisa pak. Kami berasal dari tahun 2011, mungkin kami akan terjebak disini selamanya,” kata Farah putus asa
“Jadi kalian ini memang berasal dari tahun 2011? Kalau bisa datang, pasti kalian bisa kembali ke tempat asal kalian!” kata bapak itu memberi semangat “bagaimana caranya kalian sampai disini?” tanya bapak itu lagi
“Kami menemukan sebuah buku di lapangan yang biasa kami gunakan untuk berkumpul. Saat kami memegang dan memejamkan mata secara bersamaan selama beberapa saat, tau tau, kami sudah berada disini” jelas Firda
“Boleh bapak lihat bukunya?” tanya bapak itu lagi. Dika memberikan buku itu pada bapak tadi. Setelah melihat beberapa saat, bapak itu berkata,
“Ini kan buku saya yang hilang! Saya sangat berterima kasih pada kalian karena telah menemukan buku saya. Sebagai ucapan terima kasih, kalian bisa tinggal dirumah saya sampai kalian menemukan cara kembali ke tahun 2011. Bagaimana?” tawar bapak itu pada kami. Kami mengangguk setuju
“Baiklah kalau begitu, sekarang ayo kita ke rumah saya. Jaraknya tidak jauh dari sini” kata bapak itu
Kami mengikuti bapak itu. Setelah beberapa saat kami berjalan, kami sampai di sebuah rumah yang berpagar tinggi. Kemudian, bapak itu menempelkan ibu jarinya pada sebuah alat sidik jari, dan pagar itu terbuka! Kata bapak itu, di zaman sekarang setiap rumah memiliki pagar yang tinggi dan alat sidik jari agar lebih aman dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami mengingat-ingat apa yang terjadi di tahun ini. Nantinya, akan kami tulis pada buku tugas Sejarah kami.
Belum habis kami terkagum-kagum, pintu rumah bapak itu juga seperti pintu lift yang terbuat dari besi. Orang-orang zaman sekarang sangat ramah dan baik pada siapa saja. Setiap rumah juga dilengkapi fasilitas yang mewah dan berteknologi tinggi. Gedung-gedung perkantoran juga tinggi-tinggi. Tinggi lantainya bisa mencapai 40 lantai! Sungguh tinggi sekali.
Disini, sampah telah diolah menjadi bermacam-macam barang yang berguna, seperti bingkai foto yang ada di ruang tamu Bapak tadi. Ternyata nama bapak itu adalah Ahmad, kami memanggilnya Pak Ahmad. Sampah-sampah juga tidak berserakan seperti yang terjadi di tahun 2011, bau busuk menyebar dimana-mana. Bukannya membantu membersihkan sampah, Pemerintah selalu saja korupsi yang menyebabkan rakyat kecil semakin sengsara.
Di tahun 2050, tidak ada orang yang bisa sembarang korupsi. Pengangguran pun jarang. Disini, semuanya telah memiliki usaha sendiri. Dan bagi orang yang ketahuan korupsi, akan dihukum penjara minimal 5 tahun. Itu yang kami dengar dari Pak Ahmad.
Setelah seminggu kami berada di tahun 2050, kami mulai bisa beradaptasi dan mendapat banyak sekali pelajaran yang sangat berharga dan jarang orang memiliki kesempatan emas seperti kami. Saat kami sedang memikirkan bagaimana cara kami pulang, tiba-tiba kami dilanda rasa kantuk yang teramat sangat. Kami pun akhirnya tertidur.
Saat terbangun, kami sudah berada di lapangan tempat kami berkumpul tadi, tempat sebelum kami tersesat di tahun 2050. Kami langsung pulang ke rumah kami masing-masing. Aku menceritakan hal itu pada kak Rizki, kakakku. Tapi, bukannya percaya, kakakku malah berkata bahwa aku ini terlalu banyak menonton televisi dan terlalu berimajinasi. Aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh kakakku, yang penting aku sudah menceritakan yang sebenarnya.

Keesokan harinya….
Saat aku masuk ke kelas, kulihat ada Firda, Reza dan Dika sedang mengobrol
“Eh! Yang kemarin kita ke tahun 2050 itu bener gak sih?” tanya Dika pada Reza
“Aku juga gak tau. Tapi itu seperti mimpi, ya? Kita bisa ke tahun 2050! Sungguh hal yang tidak disangka-sangka” jawab Reza
“Tapi, dengan kita pergi ke tahun 2050, kita bisa ngerjain tugas kita, ya kan?” tanyaku pada semua
“Iya! Kita tidak perlu repot mencari tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi, bisa aja tahun 2050 yang kita kunjungin itu berubah. Kan yang menentukan masa depan dan masa sekarang adalah Tuhan, bukan begitu?” tanya Dika
“Jadi, apa saja yang kita dapatkan sewaktu ke tahun 2050 kemarin?” tanya Firda
“Banyak sekali. Dimasa depan, rumah-rumah dilengkapi dengan pagar yang tinggi dan diberi alat sidik jari, supaya orang lain tidak bisa memasuki rumah kita” jawab Reza
“Kita juga bisa menemukan banyak kantor yang gedungnya tinggi-tinggi” tambahku
“Dimasa depan, semua orang mempunyai pekerjaan dan tidak ada yang menganggur. Oleh karena itu, negara kita semakin maju” tambah Randy yang sudah berada disamping kami
“Kurasa, itu sudah cukup untuk tugas kita” kata Firda
“Jadi, siapa nih ketuanya?” tanya Reza
Bagaimana kalau Randy saja?” kata Farah
“Iya. Randy kan, pintar pelajaran IPS” kata Firda
    “Baiklah kalau begitu” kata Randy

Teet….teet….teet….
Bel jam pelajaran pertama berbunyi. Jam pertama adalah pelajaran IPS. Kami sudah siap dengan tugas kami. Randy pun sudah siap untuk maju kedepan mempresentasikan tugas kelompok kami.
“Baiklah anak-anak. Sekarang waktunya tugas kalian dikumpulkan. Bapak minta perwakilan dari masing-masing kelompok yang maju kedepan” perintah Pak Nugi “yang pertama maju adalah kelompok Bima. Silahkan perwakilan maju kedepan dan membacakan apa yang menurut kalian akan terjadi dimasa depan.” kata Pak Nugi
Setelah kelompok Bima, sekarang giliran kelompok kami yang akan mempresentasikan tugas kami.
“Saya Randy, mewakili kelompok saya. Menurut saya dan teman-teman, di masa depan, Negara kita sudah maju. Kantor-kantor memiliki gedung yang tinggi. Rumah-rumah dilengkapi dengan pagar yang canggih  menjamin keamanan rumah dan pemilik rumah. Orang-orang bersikap baik dan ramah pada siapa saja. Pemerintahannya juga sangat adil, tidak ada orang yang berani korupsi. Jika ketahuan korupsi, orang tersebut akan dihukum seberat-beratnya karena menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi. Tapi, itu bisa saja berubah. Karena yang menentukan masa depan adalah Tuhan. Saya berharap, negara kita akan seperti itu dimasa depan. Demikian penjelasan saya tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Sekian dan terima kasih.” jelas Randy
“Tepuk tangan semuanya!” kata Pak Nugi sambil bertepuk tangan, diikuti murid-murid yang lain. Kelompok kami tidak menyangka akan mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari teman-teman dan Pak Nugi.
“Kalian mengerjakannya dengan bagus. Kalian dapatkan dari mana penjelasan seperti itu?” tanya Pak Nugi pada kelompok kami. Kami hanya tersenyum. Ya, hanya kami saja yang tahu darimana kami mendapatkan penjelasan itu. Mungkin, penjelasan kami tadi hanyalah imajinasi kami yang seakan-akan kami ada di masa depan. Entahlah, mesin waktu itu ada atau tidaknya. Tapi yang jelas, hanya Tuhan yang tahu keadaan kita di masa depan.



SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar