Mesin Waktu
Randy, Firda, Dika, Reza dan aku adalah sahabat karib. Kami bersahabat
sejak duduk di bangku TK. Sebenarnya, ada satu lagi sahabat kami. Namanya Farah. Tapi, dia tidak bersama kami disin. Dia ada di Amerika karena ikut orangtuanya. Ayahnya pindah kerja di sana
selama 3 tahun. Kami berjanji akan selalu
bersama setiap saat, dan setiap waktu. Farah pernah
bilang kalau suatu saat, dia pasti akan datang hanya untuk kami. Kami akan
menunggumu, Farah.
“Anak-anak, karena hari ini adalah hari pertama kalian
masuk sekolah, Bapak akan memberikan kalian kebebasan. Untuk sementara waktu,
kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Silahkan kalian melakukan kegiatan yang
kalian suka.” Begitulah pesan yang disampaikan oleh Pak Ardi, wali kelas VII-5.
Kami berlima masuk dalam satu kelas. Yaitu kelas VII-5. Kelas ini termasuk kelas RSBI. Jadi jangan heran,
untuk masuk kelas ini tesnya sangat ketat
dan sulit.
“Kita akan membicarakan
apa?” tanya Randy
“Tidak tahu” kata Reza sambil menggelengkan
kepalanya
“Kalau kamu, Nad?” tanya Firda padaku
“Aku juga tidak tahu. Mungkin kita akan diam seperti ini
sampai jam pulang nanti” kataku.
Saat kami diberi waktu untuk melupakan hal yang
berhubungan dengan pelajaran, kami malah sangat ingin belajar. Saat guru
menjelaskan, kami sangat malas untuk mendengarkan penjelasannya yang begitu
ribet dan tidak ada habisnya. Tapi sekarang, hal itulah yang kami inginkan. Itu
karena kami sudah di beri waktu selama satu minggu untuk rileks, setelah
melewati tes tertulis dan lisan. Hari ini, kami putuskan
untuk santai dan sementara tidak belajar.
Teet…teet…teet!!!
Pukul sepuluh pagi, kami sudah dipersilahkan untuk pulang
meninggalkan sekolah. Kami berjalan beriringan sambil berbincang-bincang. Arah
pulang kami memang searah, karena kami tinggal
di satu kompleks perumahan.
Setelah sampai di rumah, aku merebahkan diri di kasur.
Rasanya aku ingin sekali tidur, tapi mama pernah bilang bahwa tidur di siang
hari tidak baik bagi kesehatan. Jadi lebih baik aku
mencari kegiatan yang mendidik. Salah satunya adalah membuka internet. Aku
masih penasaran dengan mesin waktu.
Di televisi, katanya ada orang yang pernah kembali ke
masa lalu dan ada yang datang dari masa depan. Jadi, aku mencari penjelasan
yang dimaksud dengan mesin waktu dan orang-orang yang terkait dengan mesin
waktu.
Sekian lama aku mencari di internet, tak kunjung
kutemukan segala sesuatu yang berhubungan dengan mesin waktu. Jam sudah
menunjukkan pukul 12 siang. Itu artinya sudah dua jam aku mencari, dan aku
putuskan untuk menyudahi pencarian tentang mesin waktu.
“Nadia! Ayo makan” terdengar suara mama dari lantai satu.
Aku bergegas keluar dari kamarku yang berada di lantai dua.
“Kamu kemana aja sih Nad?” tanya Rizki, kakakku
“Aku habis buka internet”
kataku
“Pantesan lama banget. Kamu ngapain buka internet? Facebookan
ya?” tanya kakaku dengan rasa
ingin tahu
“Enak saja. Aku tadi habis mencari informasi tentang
mesin waktu. Aku kan tidak seperti kakak, yang kerjanya facebookan melulu!”
kataku setengah kesal tanpa melihat kakaku. Kakaku langsung berdiri dan menepuk
pundakku, lalu nyengir. Aku tau apa yang akan terjadi, lalu aku berlari yang
langsung dikejar kakaku.
“Nadiaaa!!!”
teriak kakakku. Tapi aku tidak berani
melihat ke belakang. Karena lariku lebih lambat dari kakakku, akhirnya aku tertangkap
juga oleh kakakku.
“Kamu
bilang apa tadi?!” tanya kakakku marah
“Ah, enggak kak! Aku bilang, kakak itu ganteng dan
baik. Gak ada lagi kok” kataku sambil mengelus tangan kakakku tanda memelas. Kak Rizki langsung menjitak kepalaku.
“Awas ya kamu! Kalau sampai kamu mengulangnya lagi, kamu
akan merasakan yang lebih hebat dari jitakan kakak barusan tadi!” kata kakakku
sambil berjalan meninggalkan aku.
“Eh! Iya kak” kataku. Hampir saja aku dipukulin sama
kakakku yang galak itu. Aku kan penasaran sama yang namanya mesin waktu. Sudah
satu jam aku berada di ruang makan, dan jam sudah menunjukkan pukul satu siang.
Aku bergegas ke kamar mandi dan mengambil air wudhu kemudian menuju ke mushalla
untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Setelah shalat dzuhur, aku langsung beristirahat. Setelah
shalat ashar, aku menuju rumah Randy. Kami berlima sudah janjian untuk
berkumpul dirumah Randy. Kulihat yang lain sudah berada di halaman rumah Randy.
“Oke, semuanya sudah ngumpul kan?” tanya Randy
“Langsung saja, kita memulai pembicaraannya,” kata Randy
“Farah bilang padaku akan datang mengunjungi kita” kata
Randy melanjutkan. Farah akan datang kesini? Aku dan yang lain terkejut mendengarnya.
“Farah mau datang? Yang benar kamu Ran?” tanya Firda
“Iya.
Kemarin dia sms aku, katanya dia mau datang,” jelas Randy
“Terus, kapan dia datang?” tanyaku
“Dia tidak bilang padaku kapan datangnya. Katanya ini
akan jadi surprise buat kita semua” kata Randy
“Yaaahhh......”
kata kami serempak
“Tapi aku yakin, Farah pasti datang secepatnya” kata
Randy yakin
“Kita semua juga yakin” kataku mewakili teman teman
“Eh, ngomong-ngomong, aku masih penasaran sama mesin
waktu nih” kataku mengalihkan pembicaraan
“Mesin waktu kan mesin yang ada waktunya. Iya nggak Ka?”
kata Reza melirik kearah Dika. Reza memang suka bercanda
“Iya! Bener bener! Mesin yang ada waktunya!” kata Dika
mengiyakan jawaban Reza
“Aduh! Kalian ini! Aku serius tau! Soalnya aku pernah lihat
di TV, ada orang yang mengaku datang dari tahun 2025, katanya dia datang ke
tahun 1946 ingin mengambil kembali komputer milik gurunya. Aku sih nggak tau
beritanya benar atau tidak. Makanya aku tanya sama kalian. Kalau kalian tidak tahu juga tidak apa-apa” kataku
“Iya deh,
Nad. Aku sama Dika minta maaf ya..” kata Reza meminta maaf
“Ya udah, kalian aku maafkan, tapi jangan diulangin lagi ya. Janji?” tanyaku
“Janji deh!” kata Reza dan Dika serempak sambil tersenyum
“Wah! Nadia baik banget! Udah cantik, baik, pinter lagi” kata Firda. Kami
semua tertawa. Firda, Firda, kamu ini ada ada saja…
Hari ini adalah hari Selasa. Hari ini, mungkin kami sudah
mulai aktif belajar. Aku berangkat sekolah diantar oleh ayah. Aku dan kakakku
diantar bersamaan karena jalur sekolah yang searah. Kakakku
sekarang kelas XI SMA. Sekolahnya tepat berada di samping sekolahku. Jadi jika
mau berangkat sekolah, kami selalu bersama.
Saat aku masuk ke kelas, kulihat Firda dan Reza sedang
mengobrol. Mereka ternyata sedang membicarakan kedatangan Farah.
“Menurutmu Za, kapan Farah datang kasini?” tanya Firda
pada Reza
“Yang pastinya sih aku gak tau. Aku ingin,
dia datang kesini secepatnya” kata Reza mencoba menjawab
pertanyaan Firda
“Kalian
ngomongin apa sih?” tanyaku
“Eh, kita
ngomongin tentang datangnya Farah kesini. Soalnya aku kangen banget sama Farah.
Dia kan sering nolongin aku” kata Firda
“Oiya! Aku ingat, waktu itu kamu yang paling
sering ditolong sama Farah”
kataku
“Iya! Waktu itu
kamu yang paling sering ditolong
sama Farah” kata Reza
“Iya. Farah memang baik” kata Firda
“Iya. Farah memang selalu baik sama kita semua. Tidak heran kita semua kangen sama dia” kataku
“Faraaaahh!!
Kapan kamu datang?!!” kata Firda yang
sangat ingin bertemu dengan Farah
“Kita semua sama kaya kamu! Pengen
ketemu Farah.” kataku pada Reza dan Firda.
“Kita naik mesin waktu aja! Jadi kita bisa kembali ke masa lalu yang menyenangkan sewaktu Farah belum
ka Amerika” kata Reza mengada-ada
“Reza, mulai deh yang nggak-nggak!” kata Randy yang
sempat mendengar pembicaraan kami
Ternyata Dika dan Randy sudah datang. Mereka berdua
langsung bergabung dengan kami. Ketika mereka datang, bel tanda masuk berbunyi.
Kami langsung duduk di tempat masing-masing. Dan ketika itu juga Pak Ardi
datang…
“GOOD MORNING SIR!” seru kami serempak
“Good morning everybody!” jawab Pak Ardi
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru” kata Pak
Ardi. Kami semua bertanya-tanya dalam hati. Murid baru? Siapa ya
orangnya?
“Farah, ayo masuk nak” seru Pak Ardi pada seseorang yang
berada di luar kelas. Lalu, murid baru itu masuk. Dan….
“Itu Farah!!” seru Firda. Setelah mengamati secara detail, ternyata
itu memang Farah
“Farah,
sekarang perkenalkan diri kamu.” perintah Pak Ardi
“Perkenalkan, nama saya Farah Nabila Putri. Saya datang
dari Amerika, saya harap, teman-teman semua mau berteman dengan saya.” kata
Farah memperkenalkan diri.
“Farah, kamu bisa duduk di sebelah… Ah,
itu di sebelah Firda. Kamu tidak keberatan kan?”
tanya Pak Ardi pada Farah. Farah menggeleng. Firda pasti senang sekali, karena
Farah duduk disampingnya.
“Baiklah. Sekarang Bapak tinggal dulu. Bu Yuni telah
menunggu” kata Pak Ardi
“Ini beneran kamu Far?” Firda
langsung bertanya pada Farah
“Ya iyalah Fir! Kamu dari dulu gak berubah ya! Tetap aja
plin plan!” kata Farah sambil setengah tertawa pada Firda
“Ah kamu Far! Yang itu malah yang diingat! Kamu juga.
Sifat kamu masih tomboy kaya dulu!” kata Firda sambil tertawa.
“Anak-anak! bisa diam sebentar? Jika ada yang mau bicara,
silahkan gantikan saya di depan!” bentak Bu Yuni, guru Matematika kami. Farah
dan Firda memang bicara dengan suara yang agak nyaring, makanya mereka dimarahi
oleh Bu Yuni.
Teet…teet…teet…
Bel tanda istirahat berbunyi
“Baiklah anak-anak, pelajaran kita cukupkan sampai
disini. Sampai jumpa dan selamat pagi” kata Bu Yuni
mengakhiri pelajaran
“Pagi Bu!” jawab kami serempak. Lalu murid-murid
berhamburan keluar. Aku, Randy, Firda, Dika, Farah, dan Reza langsung mencari
tempat untuk berbincang-bincang.
“Farah! Kamu kemana aja sih selama 3 tahun ini? Kita
semua kangen tau sama kamu! Kamu juga nggak ngasih kabar sama kita,” kata Firda
memulai pembicaraan
“Kalian kan tau. Aku sama keluarga aku tinggal di
Amerika? Sebenernya, aku pengen kirim surat sama kalian, tapi disana biaya
kirim suratnya mahal kalau ke luar Amerika.
Maafin aku, ya” jawab Farah
“Ya udah, kamu kita maafin deh. Oiya,
kapan kamu berangkat dari Amerika Far? Perasaanku, baru kemarin Randy memberi tahu
kami, besoknya kamu sudah datang” tanyaku mengalihkan pembicaraan
“Mungkin Farah naik mesin waktu seperti yang dibilang
Nadia” kata Reza sambil cekikikan
“Ya nggak mungkin lah aku naik mesin waktu! Mana ada disana mesin waktu.
Aku berangkat kemarin sore jam 4 waktu Amerika, jadi sampainya cepat” jelas
Farah
“Ngomong-ngomong mesin waktu, aku masih penasaran nih,”
kataku yang masih penasaran dengan mesin waktu.
“Iya! Kita juga bingung sama Nadia. Dari kemarin, dia
ngomongin masalah mesin waktu melulu!” kata Reza
“Jadi, mesin waktu itu apa sih?” tanya Dika
“Menurut aku, mesin waktu itu dipakai untuk menjelajahi
waktu, lebih jelasnya, aku ngga tahu” jelas Farah.
Teet…teet…teet…
Tak terasa, 15 menit berlalu.
Sekarang, waktunya masuk ke kelas. Pelajaran kedua yang mengajar adalah Pak
Nugi. Pak Nugi mengajar pelajaran Sejarah.
“Anak-anak, kalian tahu kan mesin waktu? Yang sekarang sedang menjadi perbincangan masyarakat?” tanya Pak Nugi pada
kami semua.
“Tau Pak!” jawab kami serempak
“Tidak diketahui, siapa penemu pertama mesin waktu, orang
yang pernah pergi ke masa lalu, orang dari masa lalu pergi ke masa sekarang,
ataupun sejarah tentang mesin waktu. Ada yang bertanya?” jelas Pak Nugi,
kemudian bertanya pada kami
“Pak! Saya mau bertanya. Apakah orang yang pergi ke masa
depan atau masa lalu dapat kembali ke masa dia berasal? Dan apakah orang itu
dapat melihat kejadian yang akan terjadi selanjutnya?” tanyaku pada Pak Nugi,
mumpung ada kesempatan
“Nadia, tadi sudah Bapak katakan, sampai sekarang belum
ada yang pergi ke masa lalu ataupun ke masa depan. Sekarang pun, keberadaan
mesin waktu masih diragukan. Jika mesin waktu ada, pasti mereka bisa melihat
apa yang akan terjadi pada masa yang mereka kunjungi.” Jelas Pak Nugi panjang
lebar
“Paham!” tanya Pak Nugi lagi
“Paham Pak!” jawab kami serempak
“Karena kalian sudah paham, Bapak akan memberikan tugas
pada kalian. Tugas kalian, bentuk sebuah kelompok. Satu kelompok beranggotakan 4-6
orang. Setiap kelompok harus memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang
akan datang. Kalian bisa mencari di internet, dengan imajinasi kalian sendiri,
atau mencari dimana saja yang menurut kalian akan terjadi di masa mendatang.
Tapi ingat, jika kalian menggunakan imajinasi kalian, jangan sembarang
berkhayal. Gunakanlah imajinasi kalian sebagus mungkin. Jika kalian menggunakan
imajinasi, hubungkan kaitannya dengan yang terjadi di masa sekarang. Contohnya,
di masa datang gedung-gedung bertingkat tidak ada yang berlantai dua. Tugas ini
dikumpul 2 hari lagi. Tidak ada alasan ketinggalan, lupa, belum dikerjakan, dan
sebagainya. Kalian paham?” lanjut Pak Nugi.
“Paham Pak!” jawab kami serempak
“Baiklah, sekarang silahkan istirahat dan selamat siang,”
Pak Nugi mengakhiri pelajaran kemudian keluar meniggalkan kelas, diikuti
murid-murid yang lain
“Kita satu kelompok tidak?” tanyaku pada Randy, Farah,
Firda, Dika dan Reza
“Pasti dong!”
kata Dika bersemangat
“Iya
dong! Kita
kan anytime
always together. Iya kan?” kata Farah
“Cieee
Farah, sudah pinter bahasa inggrisnya nih! Nanti
ajarin kami, ya?” kata Firda sambil cekikikan
“Bukan
begitu.
Emang bener kan kita selalu bersama setiap saat dan tidak akan terpisahkan satu sama lain?” kata Farah
“Sudah-sudah! Jadi, kita mulai
ngerjakan tugasnya kapan nih?” tanya Randy pada kami semua
“Siapa yang setuju kita mengerjakannya nanti sore?” tanya
Reza
“Aku mau
istirahat dulu. Soalnya aku kan baru datang dari Amerika. Aku sampai di
Indonesia saja sudah pukul 1 pagi. Paginya, aku sudah harus sekolah” jelas
Farah
“Nanti sore, aku ada les Matematika dan Bahasa Inggris. Kalau aku bolos, mama pasti
marah,” kata Dika
“Aku juga ingin membantu mama bikin kue untuk ulang tahun
papa” ujar Randy. Randy memang pandai memasak
“Aku mau membantu mama dan bibiku bersih-bersih rumah. Soalnya
Om Iwan, adik papa mau datang dari Jakarta” kataku pada Reza
“Kalau kamu Fir?” tanya Reza pada Firda
“Nanti sore aku menjaga
adikku. Soalnya papa sama
mama mau ke pasar nanti sore.
Aku disuruh menjaga Nurul nanti sore” jelas Firda pada Reza
“Berarti kita sepakat ngumpul di lapangan dekat jembatan besok,
ya?” tanya Dika pada kami. Lapangan dekat jembatan adalah lapangan yang berada
di bawah jembatan rel kereta api. Lapangan itu biasa digunakan
oleh anak-anak sekitar untuk bermain sepak bola. Tapi, kami gunakan juga untuk
berkumpul bersama.
“Ok! Jam 3 kita sudah berkumpul, ya” kata Randy mengingatkan
“Pastinya!” kata kami serempak
Keesokan harinya . . . . .
“Kita mulai dari mana nih?” tanya Reza
“Kita belum menemukan referensi untuk tugas kita, bagaimana
kita mau mengerjakannya?” kata Firda
“Firda bener! Kita belum nemuin narasumber buat tugas
ini,” kata Randy
“Eh, Dika! Kami ngelihatin apa sih? Kok kayaknya serius
amat?” kataku pada Dika yang dari tadi sedang mengamati sesuatu
“Eh Nad! Coba lihat! Ini apa ya?” tanya Dika padaku saat
melihat sebuah buku yang cover bagian depannya memancarkan sinar. Kami semua lalu mendekati Dika.
“Coba kalian pegang buku ini, rasanya seperti ada yang membawa kita” kataku pada semua
“Eh, iya bener! Coba kita pejamkan mata kita, rasanya
seperti terbang dibawa angin!” seru Farah. Kami semua mengikuti apa yang
dikatakan Farah. Ternyata benar, rasanya kami seperti terbang dibawa angin.
Saat kami membuka mata…
“Kita ada di
mana nih?” seru Reza terkejut. Saat kami membuka mata, kami ada di tempat yang
tidak pernah kami lihat dan mungkin tidak ada di dunia saat ini
“Kita tanya sama orang itu saja” kata Randy “permisi, ini
ada dimana ya pak?” tanya Randy pada seorang bapak yang sedang melintas
“Ini ada di Palangka Raya, nak” kata Bapak itu.
“Saya orang asli Palangka Raya. Tapi, belum pernah melihat
tempat ini” kata Randy sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Sepertinya, kamu bukan orang sini. Ini kan tahun 2050!
Wajar jika gedungnya tinggi-tinggi,” kata Bapak itu sambil tertawa
“Hah! 2050?” tanya Randy terkejut
“Iya! Memangnya kenapa, nak?” tanya bapak itu lagi
“Saya berasal dari tahun 2011 pak! Jadi, wajar saya tidak
tahu,” kata Randy
“Jangan bercanda kamu, nak! Tahun itu sudah lama sekali.
Tidak mungkin ada orang yang bisa datang dari tahun itu!” kata bapak itu terkejut
begitu mendengar bahwa Randy berasal dari tahun 2011
“Apa benar, ini tahun 2050?” tanya Reza
“Iya! Gak percaya? Tanya saja dengan ibu yang sedang berjalan
itu,” kata Randy pada Reza sambil menunjuk seorang ibu yang sedang berjalan
“Ok! Aku tanya dulu ya,” kata Reza sambil meninggalkan
kami dan bergegas menuju ibu yang ditunjuik oleh Randy
“Permisi, bu. Maaf, ini ada di tahun berapa ya?” tanya Reza pada ibu itu
“Ini ada di tahun 2050, nak” kata ibu itu. Kemudian, Reza menuju
kearah kami
“Gimana Za?” tanya Randy
“Benar
kata kamu Ran! Kita ada di tahun 2050” kata Reza
“Masalahnya, sekarang bagaimana caranya kita pulang ke tahun
2011?” tanyaku pada semua
“Entahlah. Mungkin kita akan terjebak disini selamanya” kata Dika putus asa
“Nggak mungkin! Kita bisa kesini, pasti kita juga bisa
pulang dari sini!” tekadku.
Tidak mungkin kami ada disini selamanya. Tadi, kami ada disini setelah
memegang buku yang ditemukan oleh Dika. Mungkin jika kami pegang lagi, kami
bisa kembali ke tahun 2011 pikirku mencari cara unntuk pulang.
“Coba kita pegang buku ini seperti saat kita
menemukannya! Mungkin dengan cara itulah, kita bisa pulang ke tahun 2011!”
kataku.
Kami memegang buku itu sambil memejamkan mata. Tapi,
setelah dicoba beberapa kali, kami tak juga kembali ke tahun 2011. Kami mulai
putus asa. Ternyata, bapak yang ditanya oleh Randy telah mengamati kami dari
tadi.
“Kalian kenapa?” tanya bapak itu
“Kami tersesat pak! Sekarang,
kami tidak tahu bagaimana
caranya pulang” kata Reza
“Memang rumah kalian dimana? Mari, bapak antar!” ajak
bapak itu
“Tidak bisa pak. Kami berasal dari tahun 2011, mungkin
kami akan terjebak disini selamanya,” kata Farah putus asa
“Jadi kalian ini memang berasal dari tahun 2011? Kalau
bisa datang, pasti kalian bisa kembali ke tempat asal kalian!” kata bapak itu
memberi semangat “bagaimana caranya kalian sampai disini?” tanya bapak itu lagi
“Kami menemukan sebuah buku di lapangan yang biasa kami
gunakan untuk berkumpul. Saat kami memegang dan memejamkan mata secara
bersamaan selama beberapa saat, tau tau, kami sudah berada disini” jelas Firda
“Boleh bapak lihat bukunya?” tanya bapak itu lagi. Dika memberikan buku itu pada bapak tadi. Setelah melihat beberapa saat, bapak itu
berkata,
“Ini kan buku saya yang hilang! Saya sangat berterima
kasih pada kalian karena telah menemukan buku saya. Sebagai ucapan terima
kasih, kalian bisa tinggal dirumah saya sampai kalian menemukan
cara kembali ke tahun 2011. Bagaimana?” tawar bapak itu pada
kami. Kami mengangguk setuju
“Baiklah kalau begitu, sekarang ayo kita ke rumah saya.
Jaraknya tidak jauh dari sini” kata bapak itu
Kami mengikuti bapak itu. Setelah beberapa saat kami
berjalan, kami sampai di sebuah rumah yang berpagar tinggi. Kemudian, bapak itu
menempelkan ibu jarinya pada sebuah alat sidik jari, dan pagar itu terbuka!
Kata bapak itu, di zaman sekarang setiap rumah memiliki pagar yang tinggi dan
alat sidik jari agar lebih aman dan terhindar dari hal-hal yang tidak
diinginkan. Kami mengingat-ingat apa yang terjadi di tahun ini. Nantinya, akan
kami tulis pada buku tugas Sejarah kami.
Belum habis kami terkagum-kagum, pintu rumah bapak itu
juga seperti pintu lift yang terbuat dari besi. Orang-orang zaman sekarang sangat ramah dan baik pada siapa saja. Setiap rumah juga dilengkapi fasilitas yang mewah dan
berteknologi tinggi. Gedung-gedung perkantoran juga tinggi-tinggi. Tinggi
lantainya bisa mencapai 40 lantai! Sungguh tinggi sekali.
Disini, sampah telah diolah menjadi bermacam-macam barang
yang berguna, seperti bingkai foto yang ada di ruang tamu Bapak tadi. Ternyata nama bapak itu adalah Ahmad, kami memanggilnya Pak Ahmad.
Sampah-sampah juga tidak berserakan seperti yang terjadi di tahun 2011, bau
busuk menyebar dimana-mana. Bukannya membantu membersihkan sampah, Pemerintah
selalu saja korupsi yang menyebabkan rakyat kecil semakin sengsara.
Di tahun 2050, tidak ada orang
yang bisa sembarang korupsi. Pengangguran pun jarang. Disini, semuanya telah
memiliki usaha sendiri. Dan bagi orang yang ketahuan korupsi, akan dihukum
penjara minimal 5 tahun. Itu yang kami dengar dari Pak Ahmad.
Setelah seminggu kami berada di tahun 2050, kami mulai
bisa beradaptasi dan mendapat banyak sekali pelajaran yang sangat berharga dan
jarang orang memiliki kesempatan emas seperti kami. Saat kami sedang memikirkan
bagaimana cara kami pulang, tiba-tiba kami dilanda rasa kantuk yang teramat
sangat. Kami pun akhirnya tertidur.
Saat terbangun, kami sudah berada di lapangan tempat kami
berkumpul tadi, tempat sebelum kami tersesat di tahun 2050. Kami langsung
pulang ke rumah kami masing-masing. Aku menceritakan hal itu pada kak Rizki,
kakakku. Tapi, bukannya percaya, kakakku malah berkata bahwa aku ini terlalu
banyak menonton televisi dan terlalu berimajinasi. Aku tidak peduli apa yang
dikatakan oleh kakakku, yang penting aku sudah menceritakan yang sebenarnya.
Keesokan harinya….
Saat aku masuk ke kelas, kulihat ada Firda, Reza dan Dika
sedang mengobrol
“Eh! Yang kemarin kita ke tahun 2050 itu bener gak sih?”
tanya Dika pada Reza
“Aku juga gak tau. Tapi itu seperti mimpi, ya? Kita bisa ke tahun 2050! Sungguh hal yang tidak disangka-sangka” jawab Reza
“Tapi, dengan kita pergi ke tahun 2050, kita bisa
ngerjain tugas kita, ya kan?”
tanyaku pada semua
“Iya! Kita tidak perlu repot mencari tahu apa yang akan
terjadi di masa depan. Tapi, bisa aja tahun 2050 yang kita kunjungin itu
berubah. Kan yang menentukan masa depan dan masa sekarang adalah Tuhan, bukan
begitu?” tanya Dika
“Jadi, apa saja yang kita dapatkan
sewaktu ke tahun 2050 kemarin?” tanya Firda
“Banyak sekali. Dimasa depan, rumah-rumah dilengkapi
dengan pagar yang tinggi dan diberi alat sidik jari, supaya orang lain tidak
bisa memasuki rumah kita” jawab Reza
“Kita juga bisa menemukan banyak kantor yang gedungnya
tinggi-tinggi” tambahku
“Dimasa depan, semua orang mempunyai pekerjaan dan tidak
ada yang menganggur. Oleh karena itu, negara kita semakin maju” tambah Randy
yang sudah berada disamping kami
“Kurasa, itu sudah cukup untuk tugas kita” kata Firda
“Jadi, siapa nih ketuanya?” tanya Reza
“Bagaimana kalau Randy saja?” kata Farah
“Iya. Randy kan, pintar pelajaran IPS” kata Firda
“Baiklah kalau
begitu” kata Randy
Teet….teet….teet….
Bel jam pelajaran pertama
berbunyi. Jam pertama adalah pelajaran IPS. Kami sudah siap dengan tugas kami. Randy pun sudah siap
untuk maju kedepan mempresentasikan tugas kelompok kami.
“Baiklah anak-anak. Sekarang waktunya tugas kalian dikumpulkan. Bapak minta perwakilan dari
masing-masing kelompok yang maju kedepan”
perintah Pak Nugi “yang pertama maju adalah kelompok Bima. Silahkan perwakilan maju kedepan dan membacakan apa yang menurut kalian
akan terjadi dimasa depan.” kata Pak Nugi
Setelah kelompok Bima, sekarang giliran kelompok kami
yang akan mempresentasikan tugas kami.
“Saya
Randy, mewakili kelompok saya. Menurut saya dan
teman-teman, di masa depan, Negara kita sudah maju. Kantor-kantor memiliki
gedung yang tinggi. Rumah-rumah dilengkapi dengan pagar yang canggih menjamin keamanan rumah dan pemilik rumah.
Orang-orang bersikap baik dan ramah pada siapa saja. Pemerintahannya juga
sangat adil, tidak ada orang yang berani korupsi. Jika ketahuan korupsi, orang
tersebut akan dihukum seberat-beratnya karena menggunakan uang rakyat untuk
kepentingan pribadi. Tapi, itu bisa saja berubah. Karena yang menentukan masa
depan adalah Tuhan. Saya berharap, negara kita akan seperti itu dimasa depan.
Demikian penjelasan saya tentang apa yang akan terjadi dimasa depan. Sekian dan
terima kasih.” jelas Randy
“Tepuk tangan semuanya!” kata Pak Nugi sambil bertepuk
tangan, diikuti murid-murid yang lain. Kelompok kami tidak
menyangka akan mendapat tepuk tangan yang sangat meriah dari teman-teman dan
Pak Nugi.
“Kalian mengerjakannya dengan bagus. Kalian dapatkan dari
mana penjelasan seperti itu?” tanya Pak Nugi pada kelompok kami. Kami hanya
tersenyum. Ya, hanya kami saja yang tahu darimana kami mendapatkan penjelasan
itu. Mungkin, penjelasan kami tadi hanyalah imajinasi kami yang seakan-akan
kami ada di masa depan. Entahlah, mesin waktu itu ada atau tidaknya. Tapi yang
jelas, hanya Tuhan yang tahu keadaan kita di masa depan.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar